The Contemporary Composer Harry Roesli (2)

While talking about Indonesian composer Harry Roesli, let me to republish my essay which was published by Koran tempo, December 18, 2004. This essay is revised and is still subject to be reedited. For non-Indonesians, I beg your pardon because I don’t translate it yet into English.

Harry Roesli dan Musik Kontemporer

Oleh Kelik M Nugroho

Apa kontribusi Harry Roesli untuk perkembangan musik kontemporer Indonesia? Pertanyaan itu penting untuk diajukan, karena Harry Roesli –komposer dan penyanyi asal Bandung — belakangan ini menjadi seterkenal para selebritas–salah satunya berkat keterlibatannya sebagai juri dalam Akademi Fantasi Indosiar, sebagai bagian dari gemuruh industri budaya pop. Banyak ulasan di media–setelah dia meninggal pada 11 Desember 2004 pada usia 53 tahun, yang lebih menonjolkan sisi kehidupan pribadinya dan aspek budaya pop yang melekat pada Harry Roesli.

Padahal Harry Roesli sejatinya seniman yang mampu bergelimang di glamoritas budaya pop, seraya tetap bisa menjaga roh kreativitas seniman murni. Tulisan ini ingin mencatat sumbangan Harry Roesli untuk musik kontemporer Indonesia. Komponis musik kontemporer dan pengamat seni Suka Hardjana menilai, Harry Roesli merupakan salah satu ikon di dalam musik kontemporer yang hebat. Harry Roesli, kata Suka seperti dikutip sebuah media, pernah mengatakan bahwa musiknya bukan hanya harus didengar dan harus ditonton, tapi juga harus dipikirkan.

Dieter Mack, komponis musik kontemporer, profesor teori musik dan peneliti dari Belanda, pernah menyebut dalam artikelnya bahwa Harry Roesli merupakan salah satu “kemeleoan musikal” dalam arti positif (Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, tahun VI/1995). Istilah “Frank Zappa dari Indonesia” terasa juga cukup tepat. Namun, tidak dalam pengertian imitasi musik Frank Zappa, melainkan hanya menjelaskan salah satu sikap tertentu. Maksudnya, kecenderungan bermain-main dalam bermusik.

Karya Harry Roesli, menurut Dieter Mack, juga dinilai senantiasa mampu bermain di tengah segala aliran dan gaya musik dengan cara yang amat kreatif, unik, penuh dengan imajinasi, dan musik fungsional yang mengadaptasi diri dengan selera yang sedang ngetren. Selain itu, Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) dinilai merupakan playground untuk semua eksperimen dan perwujudan konsep-konsep Harry Roesli. Terasa bahwa konsep Harry adalah suatu ide kerja sama antarorang dalam bentuk yang unik, tetapi sekaligus sesuai dengan salah satu ciri khas budaya Indonesia.

Dalam bahasa Suka Hardjana, yang mengamati karya Harry sejak opera Ken Arok pada pertengahan 1970-an, Harry selalu konsisten dengan jalurnya, dan bahwa di dalam karya-karyanya selalu muncul semacam “tanda” yang paralel dengan watak ungkap musik untuk teater lenong. “Musik Harry bukan musik kontemporer yang gimana gitu, tetapi punya kedekatan juga dengan tradisi kita,” kata Suka.

Dieter Mack juga mengamati bahwa dalam rangka perwujudan musik Harry, alat-alat elektronik mutakhir rata-rata diutamakan. Maka pada karya berjudul Asmat Dream (dengan pengolahan vokal dari sebuah suku di Irian Jaya) mula-mula kesan “kerja sama suatu kelompok” tidak tampak. Dalam karya ini, Harry memakai medium tape. Namun, setelah mendengarkan musik itu, jika cerita latar belakangnya diketahui, apalagi kalau akrab bersama Harry sendiri, jelas sekali bahwa tape ini hanya merupakan sebuah medium. Kemudian, medium ini ingin dia hidupkan untuk mewujudkan suatu musik yang tidak dapat diproduksi dengan cara yang lain.

Karya musik kontemporer Harry Roesli, seperti Musik Rumah Sakit (1979) dan Musik Sikat Gigi (1982) juga dikomentari komponis musik kontemporer terkemuka Indonesia, Slamet Abdul Sjukur. Karya yang berupa musik ingar-bingar itu di mata Slamet, “Seperti orang bertapa di tengah pasar. Godaannya lebih hebat daripada di tempat sunyi,” demikian seperti dikutip sebuah media.

Pada 1997, Harry Roesli pernah menggelar komposisi berjudul Musik Jantung di panggung festival perkusi Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta. Festival itu juga menampilkan kelompok musik kontemporer From Scratch, Franki Raden, dan lain-lain. Karya berdurasi tujuh menit itu menampilkan suara detak jantung, yang diubah secara digital dengan menggunakan suatu perangkat musik elektronik modern, dan kemudian menghasilkan bunyi-bunyian seperti drum besar. Dari sisi ide untuk mengolah sumber bunyi yang tak lazim berupa detak jantung menjadi musik, Harry tak sendirian. Di AS, komponis musik kontemporer Alvin Lucier pernah juga bereksperimen menciptakan musik space yang bersumber dari gelombang otak.

Di masa rezim otoritarian Orde Baru masih berkuasa, Harry Roesli menggelar konser musik tak lazim untuk memprotes kondisi politik yang represif waktu itu. Bertempat di Teater Utan Kayu Jakarta, Harry dengan membawa seperangkat keyboard dan alat musik elektonik lain menyajikan permainan musik tanpa henti selama 25 jam 10 menit. Mengantisipasi kemungkinan penonton kecapekan, Harry menaruh kasur-kasur untuk tempat duduk penonton. “Kami ingin memprotes, menyuarakan keprihatinan dengan cara sedikit menyiksa diri–tak tidur lebih sehari penuh,” kata Harry seperti ditulis majalah D&R.

Pertunjukan tak lazim itu pernah dilakukan Harry sebelumnya. Pada 1996, di Jakarta Harry menggelar pertunjukan selama 25 jam 3 menit, dan di Bandung pada 1997, pertunjukan selama 25 jam 4 menit. Dari sisi ide durasi, gagasan Harry itu tak sepenuhnya orisinal. Pemusik seperti John Cage pernah membacakan Ulysses karya James Joyce selama 36 jam, dan di Indonesia, Sapto Raharjo pernah bermusik selama tiga hari tiga malam nonstop pada 1992.

Sumbangan Harry yang lain berupa upaya eksperimen penggabungan musik karawitan Sunda dan musik modern yang berbasis rock-progresif. Karya-karya itu bisa disimak dari album-album lama, antara lain Titik Api. Dalam sebuah acara musik di Jakarta pada 1997, Harry pernah menyatakan dengan bangga bahwa dialah yang merintis eksperimen penggabungan musik pentatonis dan diatonis, jauh sebelum Jadug Ferianto dengan kelompok Kua-Etnika sukses meluncurkan album Nang-ning-nung.

Ada beberapa karya eksperimental Harry yang menyelip dalam album Harry Roesli dan DKSB (1983). Di album tersebut, ada dua karya berupa permainan drum dan piano, karya lain memakai instrumen peluit, timpani, dan drum, yang dimainkan berdasarkan pola inter-locking. Muncul di antara lagu-lagu pop progresif–dengan ciri permainan bas, drum, dan keyboard yang diketuk secara bersamaan–dua karya tersebut menjadi nilai lebih album tersebut.

Sayangnya, kebanyakan karya eksperimental Harry tak direkam. Kalaupun toh direkam dalam bentuk kaset, karya-karya tersebut sulit dibeli di toko-toko kaset besar. Bagi yang ingin melacak karya-karya Harry, mereka harus bersedia masuk ke kios-kios barang loak seperti di Taman Puring, Jakarta Selatan. Catatan ini sekadar upaya untuk melacak sebagian karya Harry Roesli, ikon musik kontemporer Indonesia yang karya-karyanya kurang diterima pasar. *

Diskografi:
(Catatan diskografi ini dikutip dari buku Musisiku, terbitan KPMI dan Republika, 2007)

1. Philosophy Gang (1971)
2. Harry Roesli Solo 1 (Diamond, 1972)
3. Harry Roesli Solo 2 (Diamond, 1973)
4. Harry Roesli Solo 3 (Diamond, 1974)
5. Harry Roesli Solo 4 (Diamond, 1975)
6. Titik Api (Aktuil Musicollection, 1976)
7. Ken Arok (Eterna, 1977)
8. Tiga Bendera (Musica Studio’s, 1978)
9. Gadis Plastik (Chandra recording, 1977)
10. LTO (Musica studio, 1978)
11. Harry Roesli dan Vocal Group Kharisma volume I (Aneka Nada, 1977)
12. Harry Roesli dan Vocal Group Kharisma volume II (Aaneka Nada, 1978)
13. Jika Hari Tak Berangin (Aneka Nada, 1978)
14. Daun (SM Recording, 1978)
15. Ode dan Ode (Berlian record, 1978)
16. Kota Gelap (Purnama record, 1979)
17. Harry Roesli dan DKSB (1984)
18. Kuda Rock ‘n Roll (Billboard, 1985)
19. Asmat Dream (Frogpeak, 1990)
20. Orang Basah (Frogpeak, 1991)
21. Cuaca Buruk (Frogpeak, 1992)
22. Cas Cis Cus (Hemagita Swara, 1992)
23. Si Cantik (Gema Nada Pertiwi, 1997)
*

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: