Buku Almanak Musik indonesia 2005-2015

cover-almanak-musik

Alhamdulilah proses penyusunan dan penerbitan buku Almanak Musik Indonesia yang sudah saya impikan lama akan segera tuntas. Sekarang ini dummy buku sudah dicetak 5 eksemplar. Langkah berikutnya editing akhir, penentuan desain, dan sentuhan terakhir. Diharapkan buku ini terbit segera di hari-hari sebelum tahun 2015 berakhir.

Keberhasilan buku ini berkat kinerja bagus tim riset yang dikomandani Muhiddin M. Dahlan, kerani @warungarsip di Jogja. Merekalah yang membolak-balik koleksi media cetak di markas mereka yang menjadi satu dengan Taman Bacaan Masyarakat Indonesia Buku dan @radiobuku

Untuk memberi gambaran sekilas isi buku, saya muatkan pengantar buku. Anda penasaran ingin tahu? Berikan komentar dan harapan Anda pada postingan ini. Terima kasih. *

Pengantar

Buku Almanak Musik Indonesia 2005-2015

Menulis buku Almanak Musik Indonesia, yang berarti, mendokumentasikan kronik peristiwa musik, membutuhkan kerja keras dan teliti, juga dana yang tak sedikit. Namun untunglah, sebagian tim penulis buku ini memiliki koleksi buku, koran, majalah, pamflet, poster, CD, kaset, bahkan piringan hitam – sumber-sumber data yang sulit dinilai.

Karena membutuhkan dana besar itulah, dalam pengalaman kami, tak mudah menemukan pihak-pihak untuk bisa diajak kerjasama  mewujudkan buku ini. Harus diakui, ide awal buku ini berasal dari saudara Taufik Rahzen, pemerhati budaya yang pernah juga memimpin upaya penerbitan Almanak Senirupa Yogyakarta (Kemdikbud, 2013).

Dalam sebuah obrolan, ide itu itu kemudian kami tuangkan dalam sebuah proposal dan dummy buku. Proposal dan dummy itu kemudian ditawarkan ke sejumlah pihak, namun lama tak membuahkan hasil. Baru pada Juli 2015, melalui saudara Jati Eko Waluyo (aktivis pemberdayaan masyarakat), kami diperkenalkan dengan Bang Tamsil Linrung, anggota DPR-RI dan pendiri Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Tangerang Selatan. Begitu kami tawari gagasan penerbitan Almanak Musik Indonesia ini, Bang Tamsil Linrung langsung menerima dan bersedia mensponsorinya. Bahkan tawaran kami untuk membuat Perpustakaan Piringan Hitam juga langsung direalisasi dan dirintis.

Mengapa seorang politisi dan pendiri sebuah sekolah Islam modern mau mendukung gagasan-gagasan ini? Kami mencoba meraba-raba benang merah yang menghubungkan antara misi penerbitan buku ini dengan misi sekolah. Kami menduga bahwa benang merah itu adalah keinginan untuk menjadi yang terdepan dalam berinovasi. Buku ini, juga Perpustakaan Piringan Hitam yang dikelola oleh sebuah sekolah, harus diakui yang pertama dalam bidangnya.

Upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia harus diakui memprihatinkan. Hingga hari ini bisa dikatakan belum ada upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia secara lengkap dan menyeluruh, yang dilakukan oleh kalangan swasta maupun pemerintah. Buku-buku yang ada umumnya masih membatasi pada genre musik tertentu.

Buku ini karena itu berusaha memulai upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia itu. Itupun dalam menulis buku ini, kami membatasi pada kriteria-kriteria, dan memprioritaskan data-data musik Indonesia sebagai berikut.

Dalam mempertimbangkan suatu data layak dimuat dalam bab Kronik Musik Indonesia, kami menyortir data dengan mengajukan pertanyaan: apa pentingnya peristiwa ini untuk perkembangan musik Indonesia? Dengan pertanyaan ini, kami menyortir data-data yang kami anggap tidak terlalu penting untuk perkembangan musik Indonesia.

Setelah itu, data-data musik tersebut kami sortir lagi dengan proritas yang kami tetapkan. Menurut kami, prioritas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penerbitan album.
  2. Penerbitan lagu tunggal (single).
  3. Penghargaan musik.
  4.  Pembukaan dan penutupan industri musik.
  5. Tur musik ke mancanegara.
  6. Diskusi musik.
  7. Wafatnya orang musik.
  8. Konser musik genre kontemporer/klasik/jazz/world music.

Bab lain yang menarik dalam buku ini tentang daftar band Indonesia ternama. Langkahnya, pertama, kami mengusulkan 100 lebih nama band Indonesia. Kedua, kami mengusulkan agar band yang terpilih harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu band yang lahir dari 1950-1990; band harus memiliki lagu yang memorable dalam sebuah album; band tak dibatasi genrenya.

Mengapa kriteria band dibatasi untuk yang lahir 1950-1990? Pertimbangannya sederhana saja, yaitu untuk membatasi pelacakan data yang mungkin akan memakan waktu lebih lama dan sumber data yang lebih banyak.. Maklum, pasca 1990-an banyak band baru yang lahir. Pertimbangan lain, band-band lama memiliki nilai informasi eksotis, dan karena tuanya, band-band tersebut harus segera didata dan didokumentasikan, sebelum sumber-sumber informasi tentang mereka hilang.

Semoga upaya pendokumentasian data peristiwa musik ini bermanfaat untuk kemajuan musik Indonesia. *

Kelik M. Nugroho

Pimpinan Proyek

Almanak Musik Indonesia

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: