Category Archives: Uncategorized

Untuk Musisi dan Penyanyi, Kirimkan Profil Anda ke Kami untuk Dibukukan

meme-duadekade1

Yth. Teman-teman penyanyi dan musisi.

Ada kabar gembira untuk teman-teman musisi dan penyanyi Indonesia. Sebuah tim kecil akan menerbitkan buku Dua Dekade Musik Indonesia (1998-2018) dengan penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku ini akan mendokumentasikan profil kelompok musik Indonesia dan penyanyi Indonesia yang muncul dari 1998-2018.

Pendokumentasian ini penting untuk penulisan sejarah musik Indonesia, dan penting untuk para musisi dan penyanyi, karena nama mereka akan diabadikan dalam sebuah buku. Karena itu, kami undang para musisi dan penyanyi untuk berpartisipasi dalam melengkapi data-data Anda (kelompok musik dan penyanyi), yang kurang lebih tercermin dalam pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Kapan album Anda pertama kali dirilis? Dalam bentuk peranti (CD, kaset, digital) apa? Perusahaan apa yang merilisnya? Indie atau major label?
  2. Apa genre musik Anda? Siapakah kiblat musik Anda baik dari dalam dan luar negeri?
  3. Berapa lagu dan album yang pernah dirilis?
  4. Apa lagu terpenting Anda? Sebutkan judul-judul lagu yang menjadi hits dari rekaman Anda, dan  sebutkan tahunnya.
  5. Siapa saja musisi yang tergabung dalam kelompok musik Anda, dan apa peran mereka? Di mana domisili kelompok musik Anda? Apa sebutan untuk fans Anda?
  6. Apakah Anda pernah mengikuti festival musik di dalam negeri maupun di luar negeri?
  7. Apakah penghargaan yang pernah Anda dapatkan?
  8. Apa motto musik Anda?
  9. Mohon kirim foto kelompok musik Anda, atau foto diri bagi penyanyi. Ukuran pixel minimal 1400×929.

Mohon partisipasi para musisi dan penyanyi, dengan menjawab kurang lebih pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan silakan kirim jawaban ke email kami pabrikbunyi@gmail.com Atau via WA 083875341217 Kiriman kami tunggu sampai 30 April 2019. Terima kasih atas perhatian dan partisipasi Anda.

Penggagas,

Kelik M. Nugroho (mantan wartawan Tempo dan penulis buku Almanak Musik Indonesia 2005-2015).

Bens Leo (pendukung gagasan).

Advertisements

Menikmati Daftar Lagu Sounds of Jogja di iTunes

cover-iTunes

Ketika membuka portal toko musik digital iTunes, mata saya tertarik pada judul daftar putar (playlist) Sounds of Jogja. Saya klik menu itu dan keluarlah daftar 34 lagu berdurasi 143 menit. Saya mencoba mencari tahu pengertian Sounds of Jogja, dan iTunes memberikan keterangan begini.

Affectionately referred to as “Jogja”, Indonesia’s Yogyakarta is considered the gathering point of Javanese arts and cultures. With a heritage spanning several centuries, it’s no wonder tourists visiting  this magical city are often left ovehelmed by it’s diversity, creativity and splendour. This playlist provides an extensive introduction to the regions most iconic sounds and figures.

Keterangan tersebut saya terjemahkan begini: “Lebih dikenal  sebagai Jogja, Yogyakarta Indonesia dianggap titik pertemuan seni dan budaya Jawa. Dengan warisan yang membentang beberapa abad, tidak mengherankan jika wisatawan yang berkunjung ke kota ajaib ini sering dibuat takjub oleh keragaman, kreativitas dan kemegahannya. Daftar putar ini memberikan pengenalan luas untuk musik dan figur paling ikonik di kawasan ini.”

Berikut beberapa lagu dan musisi yang masuk dalam daftar ini: Amber (ROBBRS), Will You Coming Home (Sarita Fraya), Nanar (The Monophones), Yogyakarta (KLa Project), Kita (SO7), Maaf (Jikustik), Hey Cantik (Shaggydog), Lagi Males Kerja (Endank Soekamti), JOGJA (Chinese Man featuring M2MX, Dubyouth, Kill the DJ), Sandaran Hati (Letto), Jaga Slalu Hatimu (Seventeen), Worth It (Stars and Rabbit), Kendang Jogja Rasa Manila (Pabrik Bunyi), Cublak-cublak Suweng (Norbert Stein Pata Masters Meets Djaduk Ferianto Kua Etnika), dan Pada Siang Hari (Senyawa).

Saya tertarik pada daftar putar ini pertama kali karena setelah mendengarkan lagu JOGJA dari grup Chinese Man. Beatnya yang rancak mirip lagu-lagu rap Jogja Hip Hop Foundation, apalagi ternyata Chinese Man, grup triphop dari Prancis ini menggandeng rapper-rapper Jogja antara lain Kill The DJ. Lagu ini unik karena menggabungkan musik dance, mediterania, dan vokal bahasa Jawa.

Lagu lain yang membuat saya tertarik pada daftar putar ini adalah lagu Cublak Cublak Suweng dari kelompok Norbert Stein (saxophonis Jerman) Pata Masters yang menggandeng Djaduk Ferianto Kua Etnika. Norbert Stein adalah saxophonis jazz asal Jerman, Djaduk Kua Etnika adalah kelompok musik kontemporer berbasis gamelan. Ketika kedua aliran musik itu dipadukan, menjelmalah musik hibrida: kontemporer, tradisional, jazz.

Dari dua lagu itu, dan satu lagu dari kelompok eksperimental Senyawa, saya berkesimpulan bahwa pembuat daftar lagu ini mempunyai selera musik yang ciamik. Namun tak berarti semua lagu dari genre-genre tersebut. Sebagai portal toko musik digital dunia, daftar putar ini juga menampilkan lagu-lagu yang pernah menjadi hit, seperti lagu Seventeen, S07, KLa Kproject, Jikustik, Letto dan lain-lain.

Secara umum daftar lagu Sounds of Jogja iTunes ini memang menyajikan musik-musik yang mewakili musisi-musisi Jogja dan warna musik Jogja. Genrenya beragam: pop, rock, grunge, tradisional, jazz, indie (terbanyak), eksperimental, dan kontemporer. Jadi jika Anda ingin melakukan perjalanan dengan mobil  menuju Jogja dan ingin menghadirkan suasana Jogja, datar lagu ini bisa menjadi pilihan Anda. *

 

 

 

Resensi Buku Almanak Musik Indonesia di Harian Kompas

Harian Kompas edisi 12 November 2016 memuat resensi buku Almanak Musik Indonesia 2005-2015 karya saya dan tim periset @warungarsip Jogja. Peresensi mas Aris Setyawan etnomusikolog.

Berikut pokok-pokok pikiran dalam resensi:
1. Buku Almanak Musik Indonesia (AMI) adalah rintisan pengarsipan musik Nusantara.
2. Pembaban buku: kronik musik, kelompok musik terpilih, leksikon tokoh musik, dan daftar prestasi musik.
3. Buku AMI tak luput dari kekurangan. Sumber data media arus utama, alhasil hanya yang diliput media arus utamalah yang ditulis, yaitu kutub musik dalam industri pop, dan kutub art music. Kutub samping dari musik indie jadinya terabaikan.
4. Ini merupakan gejala dari sesuatu yang lebih besar, yaitu kurangnya upaya pengarsipan komprehensif seluruh kronik musik, dan minimnya liputan media terhadap karya musik dari kutub arus samping.

Terima kasih atas kritik mas Aris Setyawan. Kami akan melanjutkan upaya pengarsipan musik Indonesia dari dekade ke dekade dengan penyempurnaan sana sini dan pengkayaan sumber data. Mohon dukungan semua pihak. *

 

Buku Almanak Musik indonesia 2005-2015

cover-almanak-musik

Alhamdulilah proses penyusunan dan penerbitan buku Almanak Musik Indonesia yang sudah saya impikan lama akan segera tuntas. Sekarang ini dummy buku sudah dicetak 5 eksemplar. Langkah berikutnya editing akhir, penentuan desain, dan sentuhan terakhir. Diharapkan buku ini terbit segera di hari-hari sebelum tahun 2015 berakhir.

Keberhasilan buku ini berkat kinerja bagus tim riset yang dikomandani Muhiddin M. Dahlan, kerani @warungarsip di Jogja. Merekalah yang membolak-balik koleksi media cetak di markas mereka yang menjadi satu dengan Taman Bacaan Masyarakat Indonesia Buku dan @radiobuku

Untuk memberi gambaran sekilas isi buku, saya muatkan pengantar buku. Anda penasaran ingin tahu? Berikan komentar dan harapan Anda pada postingan ini. Terima kasih. *

Pengantar

Buku Almanak Musik Indonesia 2005-2015

Menulis buku Almanak Musik Indonesia, yang berarti, mendokumentasikan kronik peristiwa musik, membutuhkan kerja keras dan teliti, juga dana yang tak sedikit. Namun untunglah, sebagian tim penulis buku ini memiliki koleksi buku, koran, majalah, pamflet, poster, CD, kaset, bahkan piringan hitam – sumber-sumber data yang sulit dinilai.

Karena membutuhkan dana besar itulah, dalam pengalaman kami, tak mudah menemukan pihak-pihak untuk bisa diajak kerjasama  mewujudkan buku ini. Harus diakui, ide awal buku ini berasal dari saudara Taufik Rahzen, pemerhati budaya yang pernah juga memimpin upaya penerbitan Almanak Senirupa Yogyakarta (Kemdikbud, 2013).

Dalam sebuah obrolan, ide itu itu kemudian kami tuangkan dalam sebuah proposal dan dummy buku. Proposal dan dummy itu kemudian ditawarkan ke sejumlah pihak, namun lama tak membuahkan hasil. Baru pada Juli 2015, melalui saudara Jati Eko Waluyo (aktivis pemberdayaan masyarakat), kami diperkenalkan dengan Bang Tamsil Linrung, anggota DPR-RI dan pendiri Sekolah Insan Cendekia Madani Serpong Tangerang Selatan. Begitu kami tawari gagasan penerbitan Almanak Musik Indonesia ini, Bang Tamsil Linrung langsung menerima dan bersedia mensponsorinya. Bahkan tawaran kami untuk membuat Perpustakaan Piringan Hitam juga langsung direalisasi dan dirintis.

Mengapa seorang politisi dan pendiri sebuah sekolah Islam modern mau mendukung gagasan-gagasan ini? Kami mencoba meraba-raba benang merah yang menghubungkan antara misi penerbitan buku ini dengan misi sekolah. Kami menduga bahwa benang merah itu adalah keinginan untuk menjadi yang terdepan dalam berinovasi. Buku ini, juga Perpustakaan Piringan Hitam yang dikelola oleh sebuah sekolah, harus diakui yang pertama dalam bidangnya.

Upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia harus diakui memprihatinkan. Hingga hari ini bisa dikatakan belum ada upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia secara lengkap dan menyeluruh, yang dilakukan oleh kalangan swasta maupun pemerintah. Buku-buku yang ada umumnya masih membatasi pada genre musik tertentu.

Buku ini karena itu berusaha memulai upaya pendokumentasian data peristiwa musik Indonesia itu. Itupun dalam menulis buku ini, kami membatasi pada kriteria-kriteria, dan memprioritaskan data-data musik Indonesia sebagai berikut.

Dalam mempertimbangkan suatu data layak dimuat dalam bab Kronik Musik Indonesia, kami menyortir data dengan mengajukan pertanyaan: apa pentingnya peristiwa ini untuk perkembangan musik Indonesia? Dengan pertanyaan ini, kami menyortir data-data yang kami anggap tidak terlalu penting untuk perkembangan musik Indonesia.

Setelah itu, data-data musik tersebut kami sortir lagi dengan proritas yang kami tetapkan. Menurut kami, prioritas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penerbitan album.
  2. Penerbitan lagu tunggal (single).
  3. Penghargaan musik.
  4.  Pembukaan dan penutupan industri musik.
  5. Tur musik ke mancanegara.
  6. Diskusi musik.
  7. Wafatnya orang musik.
  8. Konser musik genre kontemporer/klasik/jazz/world music.

Bab lain yang menarik dalam buku ini tentang daftar band Indonesia ternama. Langkahnya, pertama, kami mengusulkan 100 lebih nama band Indonesia. Kedua, kami mengusulkan agar band yang terpilih harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu band yang lahir dari 1950-1990; band harus memiliki lagu yang memorable dalam sebuah album; band tak dibatasi genrenya.

Mengapa kriteria band dibatasi untuk yang lahir 1950-1990? Pertimbangannya sederhana saja, yaitu untuk membatasi pelacakan data yang mungkin akan memakan waktu lebih lama dan sumber data yang lebih banyak.. Maklum, pasca 1990-an banyak band baru yang lahir. Pertimbangan lain, band-band lama memiliki nilai informasi eksotis, dan karena tuanya, band-band tersebut harus segera didata dan didokumentasikan, sebelum sumber-sumber informasi tentang mereka hilang.

Semoga upaya pendokumentasian data peristiwa musik ini bermanfaat untuk kemajuan musik Indonesia. *

Kelik M. Nugroho

Pimpinan Proyek

Almanak Musik Indonesia

Perpustakaan Piringan Hitam

Perpustakaan Piringan Hitam

Sumber: Koran Tempo, Jumat 26 Juni 2015

Oleh Kelik M. Nugroho, kolektor piringan hitam

Lagu itu dimulai dengan suara lengkingan biola yang mengalunkan melodi irama Mediteranian. Suara gitar bas pun mengalunkan beat irama padang pasir.  Lalu terdengar lirik: “Dalam cerita lama tersebut kisah, Abunawas jenaka menghadap raja. Hilang pasti nyawanya karena bersalah, tapi aneh akhirnya mendapat harta….”

Lagu piringan hitam tahun 1960-an dari kelompok penyanyi Yanti Bersaudara asal Bandung itu-yang diputar dengan peranti turntable dan tata suara elektronik canggih-terdengar dari lantai dua sebuah gedung di asrama Sekolah Insan Cendekia Madani, Serpong, Tangerang Selatan, suatu hari di bulan Juni 2015. Ini sekolah dengan konsep asrama yang dilengkapi sarana dan prasarana pendidikan modern-ruang kelas ber-AC, aneka laboratorium, perpustakaan hebat, gedung-gedung berarsitektur dengan konsep tropis, dan perangkat multimedia yang canggih. Sekolah swasta ini memang sedang merintis pembuatan perpustakaan piringan hitam musik Indonesia.

Kalau Anda mencari perpustakaan piringan hitam di Indonesia di mesin pencari Google, yang akan muncul adalah perpustakaan milik politikus Fadli Zon dan Helmy Faishal Zaini, yang menyediakan juga koleksi piringan hitam. Atau Galeri Malang Bernyanyi, yang akan membangun Museum Musik Indonesia, dan situs iramanusantara.org yang dikelola oleh pengamat musik David Tarigan. Bagaimana dengan perpustakaan sekolah? Tampaknya baru Sekolah Insan Cendekia Madani di Serpong inilah yang berinisiatif.

Perpustakaan piringan hitam musik Indonesia di sekolah niscaya penting untuk banyak hal. Pertama, untuk kepentingan literasi budaya. Sudah saatnya siswa diperkenalkan pada warisan musik Indonesia, sebagai pintu masuk untuk mengapresiasi warisan budaya Indonesia. Kedua, untuk kepentingan literasi teknologi musik. Agar generasi muda bisa menghargai karya musik, mereka mesti diperkenalkan perkembangan teknologi musik dari waktu ke waktu. Melek sejarah teknologi musik ini penting untuk mengembalikan kecintaan mereka pada karya musik, sebagai imbas tergerusnya kecintaan pada fisik musik akibat menjamurnya teknologi digital.

Ketiga, untuk kepentingan perawatan dan pelestarian piringan hitam musik Indonesia. Ketika perhatian pemerintah terhadap piringan hitam sebagai warisan budaya masih defisit, upaya-upaya pihak-pihak swasta untuk mengoleksi, merawat, dan melestarikan piringan hitam musik Indonesia patut diapresiasi. Kita mesti khawatir bahwa suatu saat bangsa kita akan kesulitan memiliki semua arsip musik Indonesia, khususnya yang terekam di atas piringan hitam. Ini mengingat tak semua album piringan hitam dicetak dalam jumlah banyak, sementara penjualan piringan hitam musik Indonesia sudah memasuki era pasar lintas negara. Orang bisa membeli piringan hitam melalui toko dan lapak daring.

Juga karena kini sudah mulai banyak turis asing berburu piringan hitam musik Indonesia di kios-kios barang antik, seperti di Jalan Surabaya, pasar Taman Puring, dan pusat penjualan baru di Blok M Square-semua di Jakarta. Sedangkan penjual piringan hitam kita tak mengenal nasionalisme musik Indonesia. “Maaf Pak, piringan-piringan ini sudah dipesan oleh orang Jepang,” kata seorang penjual vinyl di Blok M Square. Dia menjual satu set piringan hitam album Chrisye seharga Rp 6 juta. Nah! *

Ide untuk Badan Ekonomi Kreatif

Sumber: Koran Tempo, 5 Juni 2015

Ide untuk Badan Ekonomi Kreatif                                               

Kelik M. Nugroho, @KelikMNugroho

Pada 2007, Departemen Perdagangan RI menerbitkan buku Pengembangan Industri Kreatif menuju Visi Indonesia Kreatif 2025. Dalam buku juga dimuat Rencana Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif Indonesia (2009-2015). Sebagian isinya mungkin sudah tidak relevan, tapi sebagian sisanya tentulah masih relevan karena bisa menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan industri kreatif paling tidak 10 tahun ke depan.

Memuat semua aspek pengembangan industri kreatif di Indonesia secara komprehensif dan mendetail, buku ini niscaya bisa dijadikan model perencanaan pengembangan industri kreatif di Indonesia. Pertanyaannya: apakah pengembangan industri kreatif selama 2009-2014 berhasil? Saya kira, berdasarkan buku ini, para stake holder di bidang industri kreatif bisa memakainya sebagai parameter untuk mengukur berhasil-tidaknya program pengembangan industri kreatif dalam kurun 2009-2014.

Karena itu, salah satu langkah yang harus dilakukan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), yang menggantikan sebagian peran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sejak 2014, adalah menggunakan buku ini untuk mengevaluasi konsep dan pelaksanaan program pengembangan industri kreatif dalam kurun 2009-2014.

Untuk selanjutnya, pada tahun pertama Bekraf mengkaji relevansi rekomendasi rencana aksi masing-masing subsektor. Jika ada rencana aksi yang masih relevan, Bekraf harus segera mengeksekusi, sebagaimana ciri etos kerja yang ditekankan Presiden Joko Widodo: kerja cepat.

Industri kreatif di era Presiden Joko Widodo diasumsikan akan berkembang lebih cepat dibanding pada masa pemerintahan sebelumnya, karena banyak faktor, antara lain: karakteristik manajemen pemerintahan Joko Widodo yang menyatakan bahwa semua program pemerintah adalah program presiden. Pernyataan ini untuk mengikis kecenderungan sifat ego sektoral kementerian yang selama ini mengendurkan kerja sama antara kementerian dan lembaga.

Karena itu, sejumlah rekomendasi rencana aksi pengembangan industri kreatif yang melibatkan kementerian dan kerja sama lintas kementerian bisa diinventarisasi, dikaji relevansinya, dan kemudian dieksekusi sesegera mungkin. Di era Jokowi, diasumsikan bahwa hambatan-hambatan yang sifatnya birokratis bisa diselesaikan dengan cepat.

Langkah lain: 1) Membuat prioritas pengembangan subsektor industri kreatif (saya usulkan prioritasnya: kerajinan, kuliner, fashion, musik, dan film); 2) Membuat proyek mercusuar. Ini untuk memudahkan publik melihat prestasi Bekraf dalam lima tahun mendatang; 3) Pembentukan bank data dan riset; laboratorium kreasi; serta divisi promosi–yang harus dibaca dan ditafsirkan dalam satu napas “penciptaan atmosfer kreatif dan entrepreneurship”.

Modelnya bisa melihat Thailand Creative and Design Center (TCDC), badan mirip Bekraf, yang berfokus memberi akses ke publik berupa pengetahuan sebagai sumber inspirasi baru. Peran TCDC antara lain menghubungkan industri kreatif Thailand dengan tren dan pusat industri kreatif serta desain dunia; menghubungkan kreativitas dan desain dengan keunikan, pengetahuan lokal, UKM, dan pasar. TCDC juga berhasil membangun one-stop point bagi pelaku industri kreatif untuk berbagi pemikiran dan talenta, dan mendapatkan akses ke basis data yang kaya. *

Record Store Day 2015

CD album Happy Coda karya Frau.

CD album Happy Coda karya Frau.

Selamat Hari Toko Rekaman (Record Store Day/RD! Saya sebagai kolektor musik rekaman dan pemilik blog piringanhitam merasa sangat berbahagia pada pekan ketiga April ini yang bertepatan dengan Record Store Day. Ini hari untuk memperingati gerakan kembali ke musik rekaman fisik — yang dimulai dengan penerbitan album-album musik dari kelompok indie dalam bentuk fisik: CD, kaset, dan piringan hitam.

Tahun 2015 ini dilaporkan ada 300 rilisan khusus, dan 90 toko rekaman dan pernak-pernik, yang ikut merayakan RSD. Perayaan dilakukan di beberapa kota, khususnya Jakarta. Lokasi utama di Blok M, sebuah kompleks perdagangan yang sekarang ini entah kenapa menjadi pusat penjualan musik rekaman. Ini peristiwa kebudayaan yang membanggakan dan menggembirakan, bahwa apresiasi terhadap musik rekaman fisik tidak terbunuh oleh kehadiran teknologi digital.

Dalam postingan ini saya beri ilustrasi foto kemasan album Happy Coda karya Frau pada 2013. Frau salah satu yang sadar betul terhadap pentingnya kehadiran fisik sebuah album. Contohnya, ya kemasan album ini yang unik dan detail berupa kotak karton berbentuk bundar bergambar kaleng biskuit yang menumbuhkan tanaman bunga. Di dalamnya, disertakan booklet yang berisi data album dan lirik lagu yang dicetak di atas lembaran-lembaran bundar yang ditata berlapis-lapis. Kemasan ini benar-benar menghadirkan eksotisme fisik album. Ternyata kehidupan menghadirkan keseimbangan dengan caranya sendiri. *

Amazing Irama Nusantara

Tampilan desain situs Irama Nusantara

Tampilan desain situs Irama Nusantara

Logo Irama Nusantara

Logo Irama Nusantara

On 22 April 2014,  I visit the office of Demajors, a prominent Indonesia indie label which located in Jalan RS Fatmawati, south Jakarta.  That day I need to meet David Tarigan, co-founder of Demajors, to ask something about know-how to publish a new album.

Fortunately that this office also becomes the office of Irama Nusantara, a blog that contains documentation, image and songs of  old Indonesia vinyl. And as reader we can listen to some songs in superb sound. For example, we can listen to Jadikan Aku Dombamu, a full album by Koes Bersaudara, one of rare items.

I think Irama Nusantara is one of amazing blogs I ever found. This blog documented old and rare vinyls of Indonesian music.  Indonesia goverment should give a special appreciation toward this effort. *

 

 

 

 

 

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,700 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

New Corner for Senior Musicians

Image

For Jakartanesse, now they have a new place for meeting with friends — some time senior musicians — in Blok M Square Jakarta Indonesia, especially in lower basement, a section for books store, recorded music store — what so called Bazaar Buku.

For example is a corner of Bang Oman, owner of old recorded music store, and a member of KPMI (Komunitas Pecinta Musik Indonesia). Since he has many friends among senior musicians, so some time they come to this store to talk each other, or to buy old vinyl or cassetes.  Once upon time, I meet in this store senior artist such as Jelly Tobing (drummer). Keenan Nasution (singer, musician, composer), and so on.

Fortunately that one day  in 2012,  I met Indonesian drummer Jelly Tobing (red shirt) — see the picture above — in Bang Oman (the other one) store.  So, whenever you have time and you want to meet some senior musicians, just come to this store. *